Kisah Aaron Swartz Ahli Pemograman
Desember, 15/12/2021
Tentang Hukum Perlindungan Konsumen (dengan tautan ke https://fsh.walisongo.ac.id/)
(Lihat: https://www.bloomberg.com/news/articles/2013-01-13/why-we-should-remember-aaron-swartz)
Aaron Swartz adalah
pemuda jenius yang pada usia 14 tahun telah berkontribusi besar dalam
penciptaan RSS. Aaron Swartz adalah seorang programer jenius atau banyak orang
mengklasifikasikannya sebagai hacker (tergantung sudut pandang anda). Dia juga
merupakan founder, co-founder dan co-owner dari reddit, creative commons, dan
masih (sangat) banyak lagi. Tidak hanya itu, dia juga seorang aktivis politik
yang berfokus pada kebebasan tiap orang mendapat informasi khususnya melalui
internet. Tapi dengan segala aspek "scientific" yang melekat pada
Aaron, dokumenter karya Brian Knappenberger ini amat bersahabat bagi penonton
amatir seperti saya. Karena apa yang ditekankan oleh The Internet's Own Boy
adalah bagaimana Aaron Swartz sebagai seorang manusia yang ingin menjadikan
dunia menjadi lebih baik. Sederhana, tapi membuat film lebih dalam menggali
subjek sekaligus memberi sentuhan emosional.
Knappenberger tidak
menujukan film ini secara khusus bagi pihak tertentu, entah itu pengguna
internet, programer, aktifis, atau pengamat berita. Sebaliknya, ia berusaha
menjadikan dokumenter ini sebagai media memperkenalkan Aaron Swartz beserta
hidup dan perjuangannya kepada penonton sebanyak mungkin. Untuk itu tidak hanya
jati diri Aaron, hal-hal yang ia geluti pun dijabarkan dengan singkat namun
jelas disini. Jangan khawatir jika anda bukan orang yang menghabiskan mayoritas
hidup menjelajah internet sehingga asing dengan istilah "RSS",
"Creative Commons", atau website seperti "Reddit", karena
film ini menuturkannya sesingkat dan sejelas mungkin. Hal itu membuat filmnya
semakin less-segmented sekaligus lebih mudah bagi penonton memahami bagaimana
hebatnya sosok Aaron Swartz dan kenapa begitu banyak orang bisa mengagumi
pemuda yang tewas bunuh diri (?) tahun 2013 saat masih berusia 26 tahun ini.
Satu-satunya hal yang
menghalangi film ini menjaring penonton secara lebih luas adalah cara
bertuturnya. Pada masa dimana dokumenter banyak disajikan dengan cara baru guna
menghindari kebosanan, The Internet's Own Boy memilih teknik konvensional
dimana narasi hasil wawancara mendominasi. Jangankan bermain-main lewat mix
dengan genre lain, film ini pun minim dalam penggunaan visualisasi guna
mempermudah pemahaman penonton. Kita lebih banyak diajak mendengar dan melihat
berbagai narasumber mengutarakan kisah mereka tentang Aaron. Ibarat sebuah
presentasi, kita tidak akan mendapati sang presenter memakai slide power point
melainkan hanya bermodal bahasa verbal sambil sesekali menuliskan poin penting
di papan tulis. Mungkin terdengar membosankan. Tapi bagaimana jika si pembicara
adalah orang yang jago memainkan dinamika, membawa emosi pendengar, punya cara
bertutur yang asyik, dan bermodalkan materi yang pada dasarnya menarik? Itulah
yang terjadi pada film ini. Membutuhkan fokus lebih untuk mengikuti kalimat
demi kalimat, tapi tidak pernah membuat audience tersesat.
Beberapa hari lalu saya
baru saja menonton Citizenfour, (review) sebuah dokumenter yang berbicara
tentang internet serta konspirasi pemerintah. The Internet's Own Boy tidak
memicarakan hal yang persis sama (meski di suatu bagian kisah Edward Snowden
sempat disinggung) tapi efek yang diberikan tidak jauh berbeda. Penonton
ditampar untuk disadarkan tentang bagaimana pihak otoritas seperti pemerintah,
lembaga hukum, sampai para pemilik modal sudah semakin menanamkan kukunya,
mencengeram, merenggut hak-hak masyarakat yang ada "di bawah" mereka.
Jika Citizenfour bicara tentang NSA yang memata-matai keseharian semua orang,
maka film ini memperlihatkan bagaimana kita semakin dibatasi untuk mendapatkan
informasi bahkan tentang hal-hal yang seharusnya merupakan hak tiap orang
seperti ilmu pengetahuan dan hukum negara. Kita diharuskan membayar dalam
jumlah tidak sedikit (puluhan dollar/ratusan ribu rupiah bahkan lebih) untuk
mendapat jurnal sebagai modal belajar atau detail suatu aturan hukum. Tanyakan
saja pada mahasiswa bagaimana kesalnya mereka saat mendapati suatu jurnal yang
berguna untuk menyelesaikan suatu tugas tidak dapat diakses secara gratis.
Film ini sama seperti yang coba dilakukan oleh Aaron berusaha menyajikan sudut pandang lain tentang Illegal downloading atau pelanggaran hak cipta. Selama ini kita dibuat langsung setuju bahwa kedua hal tersebut adalah tindak kriminal, tidak menghargai usaha sang pembuat dan sebagainya. Tapi benarkah itu? Bagaimana jika sesungguhnya segala hal berbayar dan berizin itu merupakan hak kita yang harusnya bisa diakses secara bebas? Bagaimana jika yang terjadi selama ini bukan perlindungan hak cipta melainkan usaha mempertebal isi dompet mereka yang sudah tebal? Sebuah konklusi tentang "bocah 14 tahun yang lain" membuktikan hal itu. Filmnya menampar. Mengajak penonton untuk tersadar akan segala kebohongan yang ada, dan itu berhasil. Emosi saya berhasil diaduk-aduk saat melihat betapa semena-menanya pihak otoritas dalam usaha mereka menjatuhkan Aaron Swartz.
Setelah berhasil
menyadarkan, film ini juga turut mengajak penonton untuk bangkit. Bukan sekedar
ajakan kosong, karena lewat perjuangan Aaron Swartz, kita bakal melihat bahwa
sesuatu yang tidak mungkin dapat terwujud jika timbul rasa persatuan untuk
melawan. Dengan kehadiran momen uplifting tersebut, dokumenter yang dipenuhi
konspirasi dan thriller ini memantapkan posisinya sebagai sajian yang positif
dan penuh harap. Aaron Swartz memang telah meninggal dalam usia muda, tapi
jelas segala perjuangan dan semangatnya tidak akan mati, dan telah menghasilkan
bukti otentik bahwa semuanya tidak keliru dan tentunya tidak sia-sia.
Information is power, begitu esensi dan latar belakang perjuangan Aaron. The
Internet's Own Boy sendiri membawa semangat yang sama dengan merangkum serta
menyebarkan hal tersebut pada khalayak lebih luas. (https://youtu.be/3Q6Fzbgs_Lg)
Analisis Terkait
Isu Hukum dan Perlindungan Konsumen
Sebelum meninggal, Swartz sempat tersandung kasus
hukum pada Juli 2011. Ia didakwa atas tuduhan menyusupi jaringan JSTOR secara
ilegal.
JSTOR adalah sebuah situs perpustakaan digital yang
menyimpan dan mendistribusikan jurnal akademis. Ia dituduh telah
men-download 4,8 juta jurnal akademis dari JSTOR untuk dibagikan di
internet.
Salt Lake Tribune melaporkan, proses hukum
masih terus berlanjut. Ia dikenakan kasus penipuan di internet dan pencurian
melalui komputer, dengan dakwaan hukuman penjara hingga 35 tahun dan denda US$
1 juta.
"Aaron membangun hal-hal baru mengejutkan yang
mengubah aliran informasi di seluruh dunia," kata Susan Crawford, profesor
School of Law di New York yang juga bertugas di pemerintahan Obama sebagai
penasihat teknologi. Ia menyebut Swartz sebagai orang "ajaib" yang
rumit.
Sementara itu, aktivis Carl Malamud mengatakan bahwa
meski ia tidak menyetujui tindakan Swartz, namun akses ke pengetahuan berkaitan
dengan akses uang.
"Aaron mencoba untuk mengubah itu dan
seharusnya itu tidak dianggap sebagai kegiatan kriminal," tandasnya.
Beberapa tahun terakhir memang merupakan momen yang
sulit bagi Swartz, sebelum ia mengembuskan napas terakhir.
"Ia Depresi dan berjuang
melawan penyakitnya yang kronis," kata Quinn Norton, teman dekat Swartz,
tanpa menyebutkan apa penyakitnya.
Swartz juga dikenal sebagai pendiri
DemandProgress.org, sebuah kampanye online untuk melawan sensor
internet SOPA/PIPA
Komentar
Posting Komentar